Tuesday, June 21, 2016

Struktur Fisik Puisi




Struktur Fisik Puisi
Unsur bentuk atau struktur fisik puisi yaitu unsur estetik yang membangun struktur luar dari puisi. Unsur-unsur itu dapat ditelaah satu per satu, tetapi unsur-unsur tersebut merupakan satu  kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan atau ditinggalkan karena saling melengkapi satu sama lain. Unsur-unsur itu ialah: diksi, pengimajinasian, kata kongkret, bahasa figuratif (majas), rima dan tata wajah (tipografi). Menurut Waluyo dalam buku Kosasih (2012: 97), struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.
a.    Diksi (Pilihan Kata)
Diksi (atau diction) berarti pilihan kata. Kata-kata yang digunakan dalam puisi merupakan hasil pemilihan yang sangat cermat. Kata-katanya merupakan hasil pertimbangan baik itu makna, susunan bunyinya, maupun hubungan kata itu dengan kata-kata lain dalam baris dan baitnya.
Kata-kata memiliki kedudukan yang sangat penting dalam puisi. Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif dan ada pula kata-kata yang berlambang. Makna dari kata-kata itu mungkin lebih dari satu. Kata-kata yang dipilih hendaknya bersifat puitis, yaitu mempunyai efek keindahan. Bunyinya harus indah dan memiliki keharmonisan dengan kata-kata lainnya.
1)   Kata Konotasi
Kata konotasi adalah kata yang  bermakna tidak sebenarnya. Kata itu telah mengalami penambahan-penambahan, baik itu berdasarkan pengalaman, kesan, imajinasi, dan sebagainya. Contoh:
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

            Kata-kata yang bermakna konotasi dalam puisi tersebut adalah sebagai berikut.
Kata
Dasar
Tambahan
1. Hujan
Air yang turun dari langit
Perbuatan baik
2. Rintik
Titik percik air
Sesuatu yang kecil, namun banyak
3. Pohon berbunga
Pohon yang memiliki bunga
Kehidupan yang baik, yang menjanjikan
4. Jejak-jejak kaki
Tapak
Pengalaman hidup
5. Jalan
Tempat untuk melintas
Alur kehidupan
6. Diserap
Masuk ke dalam  lubang kecil
Dimanfaatkan
7. Akar
Bagian terbawah dari pohon
Awal kehidupan

Gadis Peminta-Minta
Toto Sudarto Bachtiar

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyumanmu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melinta-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Buah di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda
 
Kata-kata dalam puisi banyak menggunakan makna konotatif. Kata-kata itu merupakan kiasan atau merupakan suatu perbandingan. Puisi Gadis Peminta-Minta di atas, kata-kata gadis kecil berkaleng kecil dapat dimaknai seorang perempuan yang masih anak-anak yang sangat sengsara. Kotaku jadi hilang, tanpa jiwa bermakna keadaan di suatu tempat yang sudah kehilangan rasa kemanusiaannya, warganya tidak lagi peduli pada kehidupan orang lain.
Dari penerjemahan makna lain dibalik keseluruhan kata-katanya, kita akan sampai pada maksud sebenarnya dari puisi tersebut. Hanya saja pemaknaan itu bisa saja berbeda-beda diantara orang yang satu dengan orang lainnya. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya.
a.    Tingkat pemahaman terhadap setiap kata yang ada dalam puisi itu. Semakin banyak kata yang mudah dipahami, mudah juga dalam memaknainya.
b.   Intensitas pergaulan seseorang dengan puisi. Seseorang yang sering membaca atau bahkan menulis puisi, mudah pula bagi orang itu dalam mengenali watak puisi termasuk isi yang dikandungnya.
c.    Pengalaman pribadi. Seseorang yang pernah merasakan ganasnya kehiduoan kota, maka akan lebih mudah baginya dalam memaknai puisi di atas daripada orang yang sama sekali belum pernah  merasakannya.
Selain itu, faktor penguasaan terhadap teori sastra juga sangat berpengaruh dalam memaknai suatu puisi. Misalnya, penguasaanmu tentang macam-macam pengimajian yang mungkin terkandung dalam sebuah puisi. Dengan cara demikian, lebih mudahlah bagi kita dalam memahami maksud si penyair di balik imajinasi kata-katanya.

2)   Kata-kata Berlambang
Lambang atau simbol adalah sesuatu seperti gambar, tanda,ataupun kata yang menyatakan maksud tertentu. Misalnya, rantai dan padi kapas dalam gambar Garuda Pancasila, tunas kelapa sebagai lambang Pramuka. Lambang-lambang itu manyatakan arti tertentu. Rantai bermakna ‘persatuan dan kesatuan Indonesia’, padi kapas perlambang ‘kesejahteraan dan kemakmuran’, tunas kelapa berarti ‘anggota Pramuka yang diharapkan menjadi generasi yang berguna hidupnya bagi nusa dan bangsa’.
Lambang-lambang seperti itu sering digunakan penyair dalam puisinya. Hal itu seperti yang tampak dalam puisi Hujan Bulan Juni. Lambang-lamnbang itu, misalnya, dinyatakan dengan kata hujan dan bunga. Hujan merupakan perlambang bagi ‘kebaikan’ ataupun ‘kesuburan’. Sementara itu, bunga bermakna’keindahan’.
Perlambangan juga dijumpai dalam puisi Aku Ingin. Kata-kata itu, misalnya api dan abu. Api adalah lambang ‘semangat’, sedangkan abu perlambang ‘sesuatu yang tidak berguna’.

b. Pengimajinasian
Pengimajinasian adalah kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan khayalan atau  imajinasi. Dengan imajinasi tersebut, pembaca seolah-olah merasa, mendengar, atau melihat sesuatu yang diungkapkan penyair. Dengan kata-kata yang digunakan penyair, pembaca seolah-olah:
1)   mendengar suara (imajinasi auditif),
2)   melihat benda-benda (imajinasi visual), atau
3)   meraba dan menyentuh benda-benda (imajinasi taktil).
Contoh:
Kehilangan Mestika
Sepoi berhembus angin menyejuk diri
Kelana termenung
merenung air
lincah bermain ditimpa sinar

Hanya sebuah bintang
kelap kemilau
tercampak di langit
tidak berteman

Hatiku, hatiku
belum juga sejuk dibuai bayu
girang beriak mencontoh air
Atau laksana bintang biarpun sunyi
tetap bersinar berbinar-binar
petunjuk nelayan di samudera lautan
(karya Aoh Kartahadimadja)
Penyair dalam puisi itu menggambarkan gerak alam seperti hembusan angin, permainan air, bintang bersinar. Dengan penggambaran yang cukup jelas itu, pembaca seakan-akan ikut menyaksikan girang dan kemilaunya suasanan alam itu, juga merasakan keadaan hati Kelana yang tengah bersedih.
Contoh Puisi yang berupa mantra:
Hai, si gampar alam
Gegap gempita
Jarum besi akan rumahku
Jarum tembaga akan rumahku
Ular bisa akan janggutku
Buaya akan tongkat mulutku
Harimau menderam dipengriku
Gajah mendering bunyi suaraku
Suaraku seperti bunyi halilintar
Bibir terkatup, gigi terkunci
Jikalau bergerak bumi dengan langit
Bergeraklah hati engkau
Hendak marah atau hendak membinasakan aku
Sebagai salah satu bentuk puisi klasik, mantrapun menggunakan pengimajian. Hal tersebut tampak pada kata-kata berikut.
1)      Gegap gempita                        7) Bibir terkatup
2)      Menderam                               8) Gigi terkunci
3)      Mendering                               9) Bergerak bumi
4)      Bunyi halilintar                        10) Bergeraklah hati
5)      Jarum besi                               11) Hendak marah
6)      Jarum tembaga
Kata-kata yang digunakannya tampaklah bahwa mantra di atas menggunakan imajinasi auditif dan imajinasi visual. Dengan kata-kata itu kita bisa membayangkan benda-benda yang digambarkan itu. Contoh:
Doa
Dengan apakah kubandingkan  pertemuan kita,
kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama
meningkat naik, setelah menghalaukan panas
payah terik.
Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan,
melambung rasa menayang pikir, membawa angan ke
bawah kursimu.
Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang
memasang lilinnya.
Kalbuku terluka menunggu kasihmu, bagai sedap
malam menyirak kelopak.
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu,
penuhi dadaku dengan cayamu, biar bersinar
mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu!
(Amir Hamzah)

Dalam puisi di atas kita mendapati kata-kata berikut.
1)      Senja samar,  masa purnama meningkat naik, ke bawah kursimu, terang, bagai bintang memasang lilinnya, kalbuku terbuka, bagai sedap malam menyirak kelopak, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar, kata-kata tersebut membangkitkan imajinasi melalui penglihatan.
2)      Sepoi, panas payah terik, menghembus lemah, menyejuk badan,; kata-kata tersebut membangkitkan imajinasi melalui perabaan.
3)      Gelakku rayu; membangkitkan imajinasi melalui pendengaran.
Dengan kata-kata itu penyair bermaksud menggambarkan keadaan dirinya ketika sedang berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Ia menggambarkan dirinya lemah namun berada dalam suasana tentram. Melalui kata-kata itu penyair menunjukkan keinginan agar Tuhan mengisi seluruh kalbunya. Tentang besarnya cinta, kerinduan, dan kepasrahan sang penyair akan Tuhannya, juga dapat terbayangkan secara nyata melalui kata-kata itu.

c. Kata Konkret
Kata konkret adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imajinasi pembaca, kata-kata harus diperkonkret atau diperjelas. Jika penyair mahir memperkonkret kata-kata, maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasa yang dilukiskan penyair. Pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan penyair. Perhatikan, puisi yang berjudul Gadis Peminta-minta.
Gadis Peminta-minta
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyumanmu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melinta-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Untuk melukiskan gadis itu benar-benar seorang pengemis gembel, penyair menggunakan kata-kata gadis kecil berkaleng kecil. Lukisan itu lebih konkret daripada dengan begitu saja menggunakan gadis peminta-minta atau gadis miskin. Untuk melukiskan tempat tidur pengap di bawah jembatan yang hanya dapat untuk menelentangkan tubuh, penyair menulis pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok. Untuk memperkonkret dunia pengemis yang penuh kemayaan, penyair menulis: Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan gembira dari kemayaan riang. Untuk memperkonkret gambaran tentang martabat gadis itu yang sama tingginya dengan martabat manusia lainnya, penyair menulis duniamu yang lebih tinggi dari, menara katerdal. 

d. Bahasa Figuratif (Majas)
Majas (figurative language) ialah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara membandingkan dengan benda atau kata lain. Majas mengiaskan atau mempersamakan sesuatu dengan hal yang lain. Maksudnya, agar gambaran benda yang dibandingkan itu lebih jelas. Misalnya, untuk menggambarkan keadaan ombak, penyair menggunakan majas personifikasi berikut.
risik risau ombak memecah
di pantai landai
buih berderai
            Dalam cumplikan puisi tersebut, ombak digambarkan seolah-olah manusia yang bisa berisik dan memiliki rasa risau. Selain itu, majas menjadikan suatu puisi lebih indah. Misalnya, untaian kata-kata di pantai landai/buih berderai. Kata-kata itu tampak indah (puitis) dengan digunakannya persamaan bunyi /a/ dan /i/.
Puisi Hujan Bulan Juni di atas, terdapat dua majas yang dominan dalam puisi tersebut, yakni majas personifikasi dan paralelisme.
1)   Majas personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia. Yang dibandingkan dalam puisi itu adalah hujan. Hujan memiliki sikap tabah, bijak, dan arif. Sifat-sifat itu biasanya dimiliki oleh manusia.
2)   Majas paralelisme adalah majas perulangan yang tersusun dalam baris yang berbeda. Kata yang mengalami perulangan dalam puisi itu adalah tak ada yang lebih. Kata-kata itu berulang pada setiap baitnya.
Alternbernd mengelompokkan bahasa figuratif ke dalam tiga golongan besar. Golongan pertama ialah metafora dan simile, golongan kedua ialah metonimi dan sinekdoks, dan golongan ketiga ialah personifikasi. Sementara itu Rachmat Djoko Pradopo dalam buku Jabrohim, dkk (2009: 44) mengelompokkan bahasa figuratif menjadi 6 jenis, yaitu simile, metafora, epik-simile, personifikasi, metonimi, dan sinekdoks.
a)    Simile
Simile adalah jenis bahasa figuratif yang menyamakan satu hal dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama. Sebagai sarana dalam menyamakan tersebut, simile menggunakan kata-kata pembanding: bagai, sebagai, bak, seperti seumpama, laksana, serupa, sepantun, dan sebagainya.
Keraf menyatakan bahwa simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Perbandingan demikian ini dimaksudkan bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan yang lain. Untuk itu diperlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, misalnya dengan mempergunakan kata-kata seperti , sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan lain-lain.
Simile (demikian juga metafora) terdiri atas dua bagian, yaitu tema pokok atau principle term ‘yang mempunyai arti metaforis atau yang dikiaskan’ dan term kedua secondary term ‘yang menerangkan term pokok agar menjadi jelas dan konkret ‘. Term pertama disebut tenor, yang berarti isi, arah, tujuan, dan term kedua disebut vihicle yang berarti kendaraan atau pengantar.
Antara simile dan metafora disamping ada kesamaan, ada pula perbedaannya. Simile membandingkan dua benda atau hal secara eksplisit dengan kata-kata pembanding, sedangkan metafora membandingkan dua benda atau hal secara implisit atau tidak menggunakan kata-kata pembanding. Metafora terasa lebih padat, kaya akan asosiasi, dan tidak terganggu oleh kata-kata seperti, bagai, bagaikan, serupa, laksana, dan sebagainya.
Perhatikan baris puisi Emha Ainun Nadjib berikut: sedang rasa begini dekat/ seperti langit dan warna biru/ seperti sepi menyeru/ Kekasih. Tenor-nya adalah ‘rasa begini dekat’ sedangkan vihicle-nya adalah ‘langit dan warna biru’ dan sepi menyeru Kekasih’.
b)   Metafora
Metafora adalah bentuk bahas figuratif yang membandingkan sesuatu hal dengan hal lainnya yang pada dasarnya tidak serupa. Oleh karena itu, di dalam metafora ada dua hal yang pokok, yaitu hal-hal yang diperbandingkan dan pembandingnya. Penjelasan ini mengenai metafora ini dapat diperiksa pada uraian tentang simile di atas.
Metafora dalam puisi sering berbelit-belit karena apa yang dibandingkan harus disimpulkan dari konteksnya. Di samping itu, penyair sering menciptakan efek yang menterperanjatkan, sebab secara tidak terduga mengaitkan dengan objek –objek yang sangat berbeda.
Menurut Keraf, proses terjadinya metafora sama dengan simile, namun secara berangsur-angsur keterangan mengenai bersamaan dan pokok pertama (term pertama) dihilangkan. Sebagai contoh perhatikanlah proses di bawah ini.
Pemuda adalah seperti bunga bangsa – pemuda adalah bunga bangsa
Pemuda - bunga bangsa               
Orang itu seperti buaya darat – orang itu adalah buaya darat
Orang itu buaya darat
Lebih lanjut dikatakan oleh Keraf bahwa metafora tidak selalu menduduki fungsi predikat, melainkan dapat juga menduduki fungsi yang lain seperti subjek, objek, atau keterangan. Dengan demikian metafora dapat berdiri sendiri sebagai kata, tidak seperti halnya simile. Keraf juga mengatakan bahwa jika kata-kata seperti, bagai, bagaikan, laksana, serupa, dan sejenisnya yang terdapat dalam simile dihilangkan sehingga pokok pertama (term pertama) langsung dihubungkan dengan pokok kedua (term kedua), kita akan mendapatkan bahasa figuratif yang disebut metafora. Pada dasarnya bentuk metafora ada dua jenis, yaitu metafora eksplisit (metafora penuh) dan metafora implisit (metafora tak penuh). Metafora eksplisit adalah metafora yang mempunyai tenor dan vehicle, sedangkan metafora implisit adalah metafora yang salah satu unsurnya tidak dinyatakan dengan jelas. Salah satu unsur yang tidak jelas itu dapat berupa tenor-nya dan dapat pula vehicle-nya.
Dalam metafora penuh, tanda atau hal yang dibandingkan dinyatakan secara eksplisit dan jelas. Jadi pembandingan itu secara jelas menyebutkan tenor dan vehicle-nya. Perhatikan baris puisi Emha berikut ini. ‘matahari yang benerang hanyalah ejekan bagiku, senyuman penghianat, pisau yang diam-diam/ menikam, ...
Dalam metafora implisit, salah satu benda atau hal yang diperbandingkan tidak dinyatakan secara jelas. Yang tidak dinyatakan secara jelas itu dapat tenor-nya dan dapat pula vehicle-nya. Misalnya “kami kejar cahaya”, contoh ini mempersamakan ‘cahaya’ dengan sesuatu yang berlari, maka ‘kami’ berusaha mengejarnya. Di sini sesuatu yang berlari tidak disebutkan secara jelas apa atau siapa, orang atau binatang. Di sini yang tidak disebutkan adalah vehicle-nya. Contoh lain misalnya: ‘tatkala bertiup sepi’, dalam contoh ini ‘sepi’ sebagai tenor yang diakhirkan, diibaratkan sesuatu yang bisa bertiup. Sesuatu yang bisa bertiup adalah udara atau angin. Dengan demikian ‘sepi’ diperbandingkan dengan ‘angin’. Akan tetapi dalam contoh ini ‘angin’ sebagai pembanding atau sebagai vehicle yang didahulukan tidak disebutkan dengan jelas, hanya sifatnya saja yang disebutkan sebagai indikasi pembanding, yaitu ‘bertiup’.
c)    Personifikasi
Jenis bahas figuratif yang hampir sama dengan metafora adalah pesonifikasi. Bentuk bahasa figuratif ini mempersamakan benda atau hal dengan manusia. Benda atau hal itu digambarkan dapat bertindak dan mempunyai kegiatan seperti manusia. Benda atau hal yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan kejelasan gambaran, menimbulkan bayangan angan ynag konkret, dan mendramatisasikan suasana dan ide yang ditampilkan.
Personifikasi merupakan satu corak metafora yang dapat diartikan sebagai suatu cara penggunaan atau penerapan makna. Bentuk pembasaan yang mengandung makna tertentu dipergunakan atau diterapkan untuk menunjuk objek sasaran yang berbeda. Pada personifikasi, bentuk kebahasaan yang mengandung makna tertentu dan biasanya dikaitkan dengan aktivitas manusia dipergunakan atau diterapkan untuk menunjuk objek sasaran yang berbeda.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa antara personifikasi dan metafora keduanya mengandung unsur persamaan. Jika metafora memperbandingkan suatu hak dengan hal lain, personifikasi juga membuat perbandingan antara sesuatu hal dengan hal lain, tetapi berupa manusia atau perwatakan manusia. Dengan kata lain, pokok (term) yang diperbandingkan itu seolah-olah berujud manusia, baik dalam tindak, perasaan, perwatakan manusia lainnya. Misalnya ‘angin yang meraung’, batu-batu meringis’.
d)   Epik-simile
Epik-simile atau perumpamaan epos ialah pembandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang, yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingan lebih lanjut dalam kalimat-kalimat atau frase-frase yang berturut-turut. Menurut Rachmat Djoko Pradopo kadang-kadang lanjutan ini sangat panjang. Contoh:
Tuhanku
duniaku menghutan
hutanku jadi taman
tamanku kering, kembali jadi hutan
tanpa pepohonan
Tuhanku
panas merambah
kucari tetumbuhan yang bertahan dari api
yang kami nyalakan sendiri
di mana
           
Dalam puisi di atas, Emha mengiaskan suatu kehidupan yang sangat rawan dan tidak menentu dan penuh bahaya dengan ‘hutan’. Hutan adalah tempat yang banyak tetumbuhan besar , semak, banyak binatang buas dan berbisa yang setiap saat dapat mengancam kehiduan seseorang yang sedang di dalamnya tidak ada jalan yang jelas karena tidak pernah dilewati orang, sehingga orang yang berada di dalamnya dapat tersesat. Penyair mengiaskan kehidupan yang gersang tanpa gairah hidup, tidak mempunyai semangat, tahan uji seperti tanah yang kering dan seperti hutan yang tanpa pepohonan, yang sudah retak dan berdebu jika kena panas, dan mudah terkikis erosi serta menimbulkan banjir. Di sini penyair membutuhkan keyakinan dan keimanan yang teguh serta kepercayaan diri yang kuat agar dapat bertahan dari godaan nafsu yang timbul dari dirinya sendiri seperti tetumbuhan yang bertahan dari api yang dinyalakan sendiri.
Penggunaan sarana kepuitisan berupa bahasa figuratif tidak selamanya digunakan secara sendiri sendiri, tetapi sering juga dipergunakan secara bersama-sama dan dipadukan secara variatif. Penggunaan sarana kepuitisan ini munculnya maupun bentuknya sangat dipengaruhi dan ditentukan serta didukung oleh pemakaian atau pemilihan kosa katanya. Disamping itu, keberhasilan dalam dan memadukan jenis-jenis bahasa figuratif juga sangat berpengaruh dalam penafsiran dan penangkapan maknanya serta koherensi ekspresivitasnya, yang meliputi pencurahan  dan penghidupan ide, pengalaman jiwa dan rasa dalam atau kalimat.
e)    Metonimi
Metonimi adalah pemindahan istilah atau nama suatu hal atau benda ke suatu hal atau benda lainnya yang mempunyai kaitan rapat. Dengan istilah lain, pengertian yang satu dipergunakan sebagai pengganti pengertian lain karena adanya unsur-unsur yang berdekatan antara kedua pengertian itu. Kaitan itu berdasarkan berbagai motivasi, misalnya hubungan kausal, logika, hubungan dalam waktu dan ruang. Rahmat Djoko Pradopo menyatakan bahwa metonimi dapat pula disebut kiasan pengganti nama, misalnya menyebut sesuatu, orang, atau binatang dengan pekerjaan atau sifat yang dimilikinya. Sebagai contoh perhatikan baris-baris puisi berikut ini.
sembayang hati/ sembayang jiwa/ darah mendetakkan-
Mu, Allah, Allah
Tuhanku lingkarilah jiwaku/ dengan cincin kasih-Mu/
kubuka mulut kuminum cahaya-Mu/ demi kebenaran
kitab-kitab-Mu

Bentuk metonimi di atas (yang diberi garis bawah) mampu menunjukkan atau menjelaskan pikiran serta keyakinan penyairnya. Metonimi di atas dipergunakan sebagai upaya menghadirkan imaji tentang Tuhan. Metonimi ini ditandai dengan pemakain huruf kapital pada kata ganti Tuhan.
f)    Sinekdoki
Sinekdoki adalah bahasa figuratif yang menyebutkan suatu bagian penting dari suatu benda atau hal untuk benda atau hal itu sendiri. Sinekdoki ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni pars pro toto dan totum pro parte. Pars pro toto adalah penyebutan sebagian dari suatu hal untuk menyebutkan keseluruhan dari suatu benda atau hak untuk sebagiannya.
Seperti halnya metafora, simile, dan personifikasi, sinekdoki juga digunakan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran yang lebih hidup. Sinekdoki menghasilkan gambaran nyata. Dengan menyebutkan bagian untuk keseluruhan atau sebaliknya, sinekdoki juga menambah intensitas penghayatan gagasan yang dikemukakan penyair. Sebagi contoh perhatikanlah puisi Emha di bawah ini.
Tuhanku
di dalam setiap sembahyangku
aku melihat
segala bangunan yang kami ciptakan dalam 
kehidupan, ternyata hanyalah ulat-ulat,
busuk dan menjijikkan

Pada puisi tersebut ‘segala bangunan kehidupan yang diciptakan manusia’ diumpamakan sebagai ‘ulat-ulat busuk dan menjijikkan’. Penyebutan sebagian untuk menyebutkan  keseluruhan seperti itu menimbulkan gambaran yang jelas tentang kesia-siaan manusia dalam menjalani hidup ini. Di sini penyair kiasan itu untuk menonjolkan bagian yang penting dari kehidupan manusia yang diumpamakan sebagai ‘ulat-ulat busuk dan menjijikkan’. Jadi ‘ulat-ulat busuk dan menjijikkan’ merupakan satu bagian penting (yang ditonjolkan penyair) dari segala aktivitas kehidupan manusia secara keseluruhan.

e. Rima/Ritma
Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi. Dengan adanya rima, suatu puisi menjadi indah. Makna yang ditimbulkannya pun lebih kuat. Contoh: Dan angin mendesah/mengeluh mendesah.
Disamping rima, dikenal pula istilah ritma, yang diartikan sebagai pengulangan kata, frase, atau kalimat dalam bait-bait puisi.
Rima dan ritma, irama dan sajak, besar sekali pengaruhnya untuk menjelaskan makna sesuatu puisi. Ritma dan rima sesuatu puisi yang erat sekali hubungannya dengan sense, feeling, tone, dan itention yang terkandung di dalamnya.
Dengan demikian dapat diketahui kaki-sajak yang terdapat pada setiap larik atau bait sebuah puisi, setelah kita mendengarkan atau membaca puisi tersebut. Bahkan kadang-kadang, untuk dapat menangkap isi sebuah puisi, kita harus membacanya secara nyaring dan indah berulang-ulang dengan memperhatikan apakah iramanya tepat atau tidak. Dan bertambah yakinlah kita betapa eratnya hubungan antara puisi dengan seni suara.
Menurut susunannya rima dapat dibagi atas:
a)    rima berangkai; dengan susunan/rumus: aa, bb, cc, dd, ...
Dimata air, didasar kolam
Kucari jawab teka-teki alam

Dikawan awan kian kemari
Disitu juga jawabnya kucari

Diwarna bunga penjaga waktu
Kutanya jawab kebenaran tentu

b)   rima berselang, dengan rumus: abab, cdcd, ...
Duduk dipantai waktu senja,
Naik dirakit buaian ombak,
Sambil bercermin diair-kaca,
Lagi diayunkan lagu ombak

Lautan besar bagai bermimpi
Tiada gerak, tetap berbaring ...
Tapi pandang karang ditepi
Disana ombak memecah nyaring ...
                             (J.E. Tatengkeng “Sepanrtun Laut”, I, II)

c)    rima berpeluk, dengan rumus: abba, cddc, ....
Perasaan siapa takkan nyala
Melihatkan anak berlagu dendang
Seorang sahaja ditengah padang
Tiada berbaju buka kepala

Beginilah nasib anak dgembala
Berteduh dibawah kayu nan rindang
Semenjak pagi meninggalkan kandang
Pulang kerumah disenja-kala
                             (M.Yamin “Gembala”, I, II)

Dalam kebun ditanah airku
     Tumbuh sekuntum bunga teratai
     Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu

Akarnya tumbuh dihati dunia
     Daun berseri laksmi mengarang
     Biarpun ia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
                             (Sanusi Pane “Teratai”, I, II)

Dalam puisi Angkatan Pujangga Baru, pemotongan baris-baris puisi secara teratur dapat menciptakan irama, misalnya dalam  puisi “Menyesal” karya Ali Hasjmy berikut ini:
Pagiku hilang  / sudah melayang
Hari mudaku / telah pergi
Kini petang / datang melayang
Batang usiaku / sudah tinggi
Dalam puisi-puisi Chairil Anwar kesatuan baris-baris puisi diikat oleh pengulangan kata tertentu sehingga menciptakan gelombang yang teratur, seperti dalam “Doa” berikut ini.
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
...........

Tuhanku
Aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
                                                            (Deru Campur Debu, 1949)
 
f. Tata Wajah (Tipografi)
Tipografi adalah bentuk puisi seperti halaman yang barisnya tidak selalu diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan titik. Larik-larik puisi tidak berbentuk paragraf, melainkan berbentuk bait. Tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan drama. Tipografi adalah bentuk puisi seperti halaman yang barisnya tidak selalu diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan titik. Larik-larik puisi tidak berbentuk paragraf, melainkan berbentuk bait. Dalam puisi kontemporer seperti karya Sutardji Calzoum Bachri, tipografi itu dipandang begitu penting sehingga menggeser kedudukan makna kata-kata. Tata wajah zigzag mempunyai huruf Z dari puisi Sutardji Calzoum Bachri sangat terkenal. Seperti yang bisa dilihat pada puisi di bawah ini.
Tragedi Winka dan Sihka
kawin                                       
         kawin
                  kawin
                          kawin
                                        kawin
                                  ka
                              win
                           ka
                      win
                  ka
              win
          ka
    win
ka
    winka
            winka
                    winka
                            sihka
                                    sihka
                                            sihka
                                                    sih
                                                ka
                                            sih
                                        ka
                                    sih
                                ka
                            sih
                        ka
                    sih
                ka
                    sih
                        sih
                            sih
                                sih
                                    sih
                                        sih
                                            ka
                                                Ku
karya: Sutardji Calzoum Bachri

Puisi di atas, bentuk grafis lebih dipentingkan. Bukan tanpa maksud penyair menulis puisi berbentuk zig-zag. Ia juga mempunyai maksud tertentu dengan membalik kata-kata yang digunkan karena di dalam puisi, yang tidak bermakna diberi makna, dan mungkin kata yang sudah bermakna diberi makna baru. Maju mundurnya baris dan maju mundurnya pernyataan mungkin mengandung maksud tersendiri. Dengan kata lain, bentuk, larik, dan kata dalam puisi di atas membentuk makna tersembunyi.
Meskipun makna puisi tersebut tidak diungkapkan, namun bentuk fisik puisi di atas membentuk makna tersendiri. Puisi di atas adalah tragedi. Yakni tragedi winka dan sihka. Pembalian kata /kawin/ menjadi /winka/ dan /kasih/ menjadi /sihka/ mengandung makna bahwa perkawinan antara suami istri itu berantakan dan kasih antara suami istri sudah berbalik menjadi kebencian.
Baris-baris puisi yang membentuk zig-zag mengandung makna terjadinya kegelisahan dalam perjalanan perkawinan itu. Pada baris ke-7, kata /kawin/ berjalan mundur. Hal ini mengandung makna bahwa cinta perkawinan yang tadinya besar, berubah menjadi semakin lama semakin kecil. Pada baris ke-15 kata /kawin/ sudah berubah menjadi /winka/ yang dapat ditafsirkan bahwa percekcokan dan perpisahan sudah sering terjadi, sehingga kata /kasih/ itu berubah menjadi /sihka/ yang berarti bahwa kasih itu sedang benar-benar berubah menjadi kebencian. Pada baris ke-22, kasih itu mundur sekali, sampai akhirnya tinggal sebelah saja yakni /sih/. Pada akhir puisi ini bahwa kawin dan kasih itu menjadi kaku atau ini bernama tragedi. /Ku/ dimulai dengan huruf kapital menyatakan bahwa penyair akhirnya berpaling kepada Tuhan.
Berikut ini beberapa contoh berbagai tipografi tersebut :
a) Menggunakan huruf kecil semua dan tanpa tanda baca,
paman-paman tani utun
ingatlah           
musim labuh sawah tiba
duilah

musim labuh kurang tidur ya paman
kerja berjemur dalam lumpur tak makan
sawah-sawah menggempur hancur 
merpatinya wokwok ketekur

(PAMAN-PAMAN TANI UTUN, Piek Ardijanto Suprijadi, Angkatan 66, hal. 462)

b) Menggunakan huruf besar pada setiap awal kalimat, tanpa tanda baca,
Di depan gerbangmu tua pada hari ini
Kami menyilangkan tangan ke dada kiri
Tegak dan tengadah menetap bangunanmu
Genteng hitam dinding kusam berlumut waktu
(ALMAMATER, Taufiq Ismail, Angktan 66, hal. 151)

c) Menggunakan huruf besar-kecil dan tanda baca lengkap,             
Kukitari rumahMu.
Kukitari rumahMu bersama jutaan umat
Ketika Kauturunkan rahmat
meresap ke dalam hati, memercik di sudut mata :
Tuhanku, Tuhanku, ampuni segala dosa kami
Ulurkan tanganMu, bimbing kami
ke jalan lurus yang Kauridoi.
Di bumi ini
dan di akhirat nanti.
(SEMENTARA THAWAF, Ajip Rosidi)

d) Sebagian baitnya menjorok ke dalam,
Laksana bintang berkilat cahaya,
Di atas langit hitam kelam,
Sinar berkilau cahya matamu,
Menembus aku kejiwa dalam.
 
    Ah, tersadar aku,
    Dahulu ....................................
    Telah terpasang lentera harapan
    Tetiup angin gelap keliling.

Laksana bintang di langit atas,
Bintangku Kejora
Segera lenyap peredar pula,
Bersama zaman terus berputar
(SEBAGAI DAHULU, Aoh Kartahadimaja, Gema tanah Air, hal. 51

Mengenai tipografi yang berhubungan dengan susunan baris atau kalimat dalam tiap bait ini pun masih banyak lagi ragamnya.Adapaun maksud penyusunan tipografi yang beraneka macam itu,secara garis besar dapat dibedakan atas 2 (dua) macam :
a) Sekedar untuk keindahan indrawi; maksudnya sekedar agar susunan puisi tersebut nampak indah dipandang.
b) Untuk membantu lebih mengintensifkan makna dan rasa atau suasana puisi yang bersangkutan.
Perhatikan tiga contoh puisi berikut ini,
Bukan tidak saya letakkan,
Buah delima di atas gudang
        Untuk berbuka bulan puasa.

Bukan tidak saya katakan,
Saya hina dari orang,
       Tuan katakan,tidak mengapa.

Pohon cempedak saya tanamkan,
Pohon nanas kutanam juga,
       Batang mengkudu pemagarnya.

Bukan tidak saya katakan,
Tuan emas, saya tembaga,
       Tidak sejodo keduanya.
(M.I. Nasution, PUJANGGA BARU,hal. 240)

DOA PERAHU
tuhanku
        beritahu
                kini

ke manakah
            harus
                 kupergi

ke muara
           menyongsong
                   laut
                            biru

ataukah
         melawan
                 arus
                     menuju
                              hulu
(Ismed Natsir, Horison, Oktober, 1974)
                  Masihkah kau cinta padaku

              walaupun orang yang tak punya ?

            Perlukah kau bertanya padaku tentang

   yang tengah kurasakan ? Masihkah kau teringat

disaat kita                                               begitu dekat ?

Akankah kau                                          rindu padaku

walaupun ku                                           bukan milikmu lagi ?

Masihkah kau                                        ada waktu tuk ku

                                                                     walaupun jam

                                                                 berganti detik ?

                                                             Amankah kau

                                                         bersamanya

                                                    walaupun kau

                                                berkata kan

                                            baik- baik saja ?

                                           MASIHKAH ?

                                          MASIHKAH ?

                                          MASIHKAH ?                       
BIORHIMITZU 10-12-2011

Kontribusi Topografi terhadap Kemaknaan Puisi Kongkret
Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Bisa kita lihat pada beberapa puisi dari Sutardji Calzoum Bachri salah satunya adalah puisi di bawah ini.
TAPI
aku bawakan bunga padamu
                                       tapi kau bilang masih
aku bawakan resah padamu
                                       tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
                                       tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
                                       tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
                                       tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padmu
                                       tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
                                       tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
                                       wah!
Sutardji Calzoum Bachri, O AMUK KAPAK, 1981
          
Dengan tipografi  seperti di atas bisa kita simpulkan bahwa perwajahan puisi tersebut menggambarkan sebuah pertentangan antara “aku” dan “kau” sehingga apa pun yang dibawa oleh “aku” selalu kandas dan terjatuh (tak bermakna) di mata “aku” seperti digambarkan dalam baris puisi yang anjlok ke bawah dan menjorok ke dalam.  Tipografi barisnya yang anjlok dan menjorok ke dalam seolah menggambarkan bahwa apa yang dimiliki “aku” sangat diremehkan,  tidak ada apa-apanya dalam pandangan “kau”.  Selain itu, dengan adanya pemisahan antara baris “aku” dan “kau”, seolah menggambarkan bahwa percakapan dalam puisi itu terjadi dialog antara dua orang, baik antara seorang Budak dengan Tuannya, maupun Hamba dengan Tuhannya. Hal itu menggambarkan bahwa seorang hamba dengan Tuhannya tidak akan pernah sejajar.
Sebenanya dengan tipografi seperti itu pembaca bisa mengartikan atau memaknai puisi tersebut sesuai dengan makna yang ditangkap oleh pembaca. Seperti yang diutarakan oleh Julia Kristeva bahwa arti sebuah puisi tidak terletak dari kata, seperti sesuatu yang dipikirkan atau dimaksudkan oleh pengarang, melainkan kata-kata itu menjadikan sebuah arti yang harus diusahakan dan diproduksi sendiri oleh pembaca. Bila terjadi perbedaan makna yang ditangkap oleh setiap pembaca, itu merupakan hal yang wajar karena puisi ekspresi dalam puisi itu bersifat tidak langsung. Seperti yang kita ketahui bahwa ketidaklangsungan tersebut disebabkan oleh penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti. Jadi semua orang berhak mengartikan apapun dari puisi siapa pun tak harus sesuai yang dimaksudkan oleh pengarangnya karena penyimpangan pemaknaan atau arti puisi itu merupakan salah satu sebab dari ketidaklangsungan ekspresi di dalam puisi.
Selain dari penyimpangan arti, Geoffrey dalam buku Waluyo, (2005: 68) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik). Bisa kita lihat dalam puisi di atas dalam segi tipografi penyimpanagn grafologis sangat tampak jelas. Tidak tampak tanda baca baik titik maupun koma kecuali hanya tanda seru (!) pada kata terakhir yang menyatakan ketakjuban “kau”. Selain itu tidak ada huruf kapital yang mengawali awal kalimat kecuali hanya pada judul puisi. Sehingga kita bisa mengambil makna bahwa seorang manuasia (aku) janganlah merasa lebih besar (hebat) dari pada penciptanya. “kau” yang tidak diawali huruf kapital seperti layaknya huruf yang menggambarkan Tuhan, seolah meyakinkan manusi (aku) bahwa Tuhan tidak mengajarkan manusia untuk sombong jadi “aku” tidak menggunakan huruf kapital agar tidak melebihi “kau” (Tuhan).





 Daftar Pustaka

Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang: Sinar Baru Algensindo.
Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Arifin, Zainal. 2012. Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Abbas, Ersis Warmansyah. 2007. Menulis Sangat Mudah. Jakarta: Mata Khatulistiwa.
Eddy, Nyoman Tusthi. 1983. NUKILAN I 15 esai tentang sastra. Flores: Nusa Indah.
Jabrohim, dkk. 2009. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kosasih. 2012. Dasar-Dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrama Widya.
Kusuma, Indra. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bondowoso: UD Rani Maesan.
Moleong. 2010. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nikmah, Rokhimatul. 2012. Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas VII Semester 2 SMP PGRI 1 Pesanggaran Banyuwangi Tahun Pelajaran 2012/2013. Skripsi tidak diterbitkan. Progam Pendidikan Bahasa, Sastra  Indonesia dan  Bahasa Daerah Universitas Muhammadiyah Jember.
Rosidi, Imron. 2009. Menulis Siapa Takut?. Yogyakarta: Kanisius.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Jakarta: Alfabeta
Suyanto. 2010. Belajar Menulis Karya Sastra. Banyuwangi: ForBuk dan KSI.
Tarigan, Henry Guntur. 1996. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Waluyo, Herman J. 2005. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

No comments:

Post a Comment